Mengurai Cahaya

saatnya hidup menjadi bermakna!

Arti Bahagia

pada 24 Mei 2010

Kau tahu apa tentang kebahagiaan?

Apakah bahagia itu saat tawamu berderai, dunia menjadi berwarna, orang-orang menatapmu bangga setengah iri, atau saat kau sendiri memutuskan untuk tersenyum meski kau tengah bersedih hebat?

Kau tahu apa tentang bahagia?

Apakah itu saat kau berani berkata, mengutarakan maksud, dan ianya mendapat respon dengan apa yang kau harapkan? Apakah itu saat kau tahu, orang-orang yang dekat bersamamu tengah berterima kasih karena kau telah membantu mereka menemukan impiannya?

Kau tahu apa tentang bahagia?

Apakah itu saat kau lulus ujian, dimana kau berteriak senang karena menjadi yang terbaik, lalu seusai itu, kau mendapat sesuatu, sekolah yang baguskah, atau pekerjaan yang menjanjikankah, atau penghargaan yang mengalirkah, atau.. banyak hal?

Apakah itu saat kau tahu kau mendapat sesuatu, yang orang lain tak bisa dapatkan, dan kau ingin membuat senang orang-orang yang kau sayang?

Kau tahu apa tentang bahagia?

Apakah itu saat kau masuk lingkungan baru, mencoba menemukan suasana baru, teman-teman baru, melupakan masa lalu kelabu, dan menjadikannya indah di setiap detak jantungmu?

Itukah arti bahagia?

Lalu apa artinya bahagia jika ternyata rasa yang meluap itu tiba-tiba luruh seketika karena berbeda dengan kenyataan yang ada di hadapanmu?

Saat kau lulus ujian, lalu diam-diam kau mulai cemas karena tak tahu apakah bisa melanjutkan atau tidak, apakah bisa mendapatkan sekolah favorit atau tidak, apakah biaya untuk itu ada atau tidak, apakah itu akan membuat orang-orang terdekatmu bahagia atau tidak? Itukah definisi bahagia?

Denting itu menyala sekejap, menelan biru tawamu. Apakah itu bahagia?

Seperti waktu itu.

Aku masih sangat ingat saat pengumuman SPMB tiba. Masih sangat terasa dalam detak jantungku bagaimana dengan tiba-tibanya detakan itu liar menari karena belum tentu namaku ada di kertas koran yang datangnya pun terlambat tiba. Tanganku liar mencari. Mencocokan nama dan nomor peserta, dan mencari masuk ke jurusan apa aku nantinya.

Suatu detik, aku terpana. ADA. Ada nama lengkapku di sana. Lengkap dengan no peserta, dan pilihan  dimana aku diterima. Lalu setengah berteriak sesuai bersujud kukabarkan berita bahagia itu pada mereka, ayahku, orang-orang terdekat, dan berteriak senang bahwa aku sudah lulus ujian.

Lalu, apakah sampai di situ?

TIDAK ternyata, episode bahagia ada masa kadaluarsanya. Baru saja beberapa saat aku berteriak senang, beberapa kejap kemudian tiba-tiba aku tersadar. Adakah biayanya untuk itu?

Kutatap wajah Bapak yang tiba-tiba saja tengah berpikir, kugigit bibirku keras-keras menahan tangis yang terasa lebih menyakitkan. Ya, ternyata bahagia lebih menyakitkan bila ternyata konsekuensinya tak sejalan dengan apa yang kau rencanakan. Setelahnya, aku mengurung diri. Menegar-negarkan hati bahwa tak apa kesempatan itu tak kuambil juga. Setidaknya, aku telah tahu dan merasakan, bagaimana rasanya mengikuti ujian, dan lolos dari puluhan ribu orang yang berniat kuliah di jurusan yang sama.

Itukah bahagia?

Atau saat IP-mu 4,00. SEMPURNA. Berulangkali kau mendapatkaan IP sempurna. Tapi, apakah itu kebahagiaan? Tanpa ada kensekuensi kau harus belajar lebih giat lagi karena ternyata teman-temanmu dengan penuh gairah semangat menyusul keberhasilanmu?

Itukah bahagia?

Atau saat kau tuntas menyelesaikan skripsi, legakah? Belum ternyata. Masih ada sidang di hadapannya. Setelah sidang, masih ada wisuda yang harus kau persiapkan. Setelahnya, kau mulai terjun ke dunia nyata. Berbaur dengan dunia masyarakat luas, mengabdikan ilmu yang kau tanam, dan membaginya agar kau semakin berkilau. Selesai sampai di sana?

TIDAK ternyata! Karena setiap kebahagiaan selalu diiringi dengan konsekuensi di detik berikutnya. Kecuali bila kau mati, khusnul khatimah, tersenyum dalam syahadatmu menyebut nama-Nya, bisa jadi itu tak ada lagi konsekuensi. Karena waktumu sudah berakhir, dan kau tinggal menunggu hari akhir, hari perhitungan, siapa tahu Allah berkenan memasukanmu ke dalam Syurganya. Itulah bahagia. Abadi dan selamanya.

Ever after, life happy forever.

Lalu, sudahkah kau bahagia hari ini?

Keterlaluan rasanya bila kau tak merasa bahagia. Bahagia itu adanya di dalam hati, diekspresikan dalam bentuk syukur, dirasakan tidak hanya oleh diri, tapi juga oleh orang lain. Bbahagia itu adalah pilihan, bagaimana kau akan menjalani hari, apakah akan diisi dengan sesuatu yang membuat hidupmu menjadi lebih indah, atau dihabiskan untuk tiduran dan menjadi sampah di sisa waktumu?

Bahagia adalah tentang menciptakan, membagi, merasakan, dan menjadi pendorong bagi kesuksesan yang lain. Bahagia adalah saat kamu, dia, mereka, dan AKU merasakan begitu besar kasih Allah, mensyukuri nikmat-Nya, dan mulai bertahap memperbaiki kualitas diri dan keimanan. Bahagia adalah aku dan kau, semakin memukau dan membuat orang semakin berkilau.

Bahagia adalah AKU, yang menulis pagi ini, dan kau membacanya sepenuh hati.

Bahagia adalah terima kasih, karena kau telah sudi membaca sepenggal curahan hati lelaki ini. Bahagia adalah sekarang, saat ini, menit ini, dan… ever after…

Bahagia adalah… apa menurutmu?

About these ads

One response to “Arti Bahagia

  1. engkaudanaku mengatakan:

    Bahagia adalah saat merasakan indahnya kebersamaan denganNya, mengingatNya, lalu mengucap syukur “Alhamdulillaahirabbil’alamiin” :)

    Salam,

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: